“Kiamat Kecil” Tambora: Sebuah Tahun Tanpa Musim Panas, Bencana Kelaparan, dan Perubahan Iklim

“Kiamat Kecil” Tambora: Sebuah Tahun Tanpa Musim Panas, Bencana Kelaparan, dan Perubahan Iklim, Gunung Tambora, Tambora, Gunung Tambora Meletus, Letusan Gunung Tambora, Reidfile.com

Reidfile - Mulanya seperti guntur bergemuruh dan langit sedang dibombardir meriam. Pasukan Hindia-Belanda bersiaga. Mereka kira, Yogyakarta sedang diserang. Tidak lama, muncul awan mendung yang menghalangi sinar Matahari. “Kiamat kecil” Bumi sedang dimulai.

Pada tanggal 5 April 1815 di Pulau Jawa, lebih tepatnya Batavia (Jakarta), letusan pertama Gunung Tambora terdengar. Setelahnya, Tambora benar-benar murka, hingga pada tanggal sepuluh April, ledakan semakin mengguncang bumi dan laut. Hal yang tidak lazim, sebab Gunung Tambora (Atau Tomboro) terletak di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, beribu kilometer jaraknya dari Batavia. Beberapa catatan mengungkap, letusan yang terdengar juga melebihi jarak dua ribu kilometer.

Setidaknya, Thomas Stamfford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada zaman itu mencatat, dampak letusan Tambora sangatlah dasyat. Dalam The History of Jawa ia menulis: bau nitrat tercium hingga Batavia, sinar Matahari terhalang debu vulkanis, sementara hujan abu mulai menyelimuti Gresik dan Sulawesi. Selama beberapa bulan, Bumi menjadi dingin, sehingga Eropa sempat mengalami krisis dan kelaparan hebat.

Kisah “kiamat kecil” Gunung Tambora lantas tercantum juga pada naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai, ketika dibacakan oleh Siti Maryam Salahuddin (88), seorang ahli filologi, sekaligus putri Sultan Bima terakhir, yakni Muhamad Salahuddin.
Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah krisik batu dan habu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam. (Muhamad Salahuddin)
Meski belum ada angka pasti, diperkirakan lebih dari dua ratus ribu orang tewas, baik secara langsung maupun karena bencana kelaparan dan penyakit. Pada akhirnya, guncangan Tambora benar-benar berhenti pada tanggal 14 Oktober.

“A Year Without Summer”

Jika dibandingkan, letusan Gunung Tambora terbukti lebih dasyat dari Gunung Krakatau. Di atas sana, Tambora membentuk tiga lajur api yang mengubah seluruh pegunungan jadi aliran api. Batuan apung berdiameter 20 sentimeter mulai menghujani sisi gunung, diikuti dengan hujan abu--memusnahkan peradaban di sekitarnya, dan tiga kerajaan besar: Kerajaan Sanggar, Tambora, dan Pekat.

Debu dan partikel vulkanik yang terlempar puluhan kilometer rupanya mulai memengaruhi iklim Bumi. Selama berbulan-bulan, abu tertahan di atmosfer dan menghalangi sinar Matahari, menjadikan wilayah Eropa dan Amerika Utara, tetap dingin, suhu turun sekitar tiga derajat celsius--meski saat itu, terhitung musim panas. Krisis dan kelaparan hebat pun terjadi. Tumbuhan layu dan mati kering, sementara banyak hewan kehilangan “santapan” mereka. Jutaan orang hidup sulit, kedinginan, dan kelaparan.

Adapun dampak lanjutannya, yakni penyebaran penyakit tipus dan disentri di sana; diklaim telah merenggut korban hingga dua ratus ribu orang hanya dalam periode tiga tahun (1816-1819). Tidak dapat dimungkiri, letusan ini merupakan yang terbesar di Bumi dalam catatan sejarah modern.

Kelaparan Sepanjang Tahun 

Bukan hanya satu tahun tanpa musim panas, dalam laporannya kepada Raffles, Letnan Owen Philips lantas menuliskan kondisi pulau Sumbawa--yang terdampak paling besar dari letusan ini. “Bencana terbesar yang dialami penduduk sangat mengerikan untuk dikisahkan. Mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan dan di beberapa perkampungan tersapu bersih, rumah-rumah hancur, penduduk yang masih hidup menderita kelaparan.”

Tidak hanya itu, material vulkanis juga menyebabkan sejumlah gagal panen, di Pulau Sumbawa dan pulau sekitarnya, seperti Bali. Tidaklah mengherankan, untuk daerah terdekat saja, letusan ini memakan korban sebanyak seratus ribu jiwa. Adapun situasi serupa juga digambarkan dalam naskah kuno Kerajaan Bima bertahun 1815.

"Maka heran sekalian hambanya, melihat karunia Rabbal’alamin yang melakukan al-Fa’alu-I-Lima Yurid (Apa yang dikehendakiNya), maka teranglah hari maka melihat rumah dan tanaman maka rusak semuanya demikianlah adanya, yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad."

Adapun dampak letusan bisa sebegitu besar, lantaran masyarakat sekitar diduga tidak memahami risiko gunung berapi. Beberapa penelitian membuktikan, ancaman Gunung Tambora tidaklah dikenal oleh penduduk di kaki Gunung Tambora. Indyo Pratomo, geolog dari Museum Geologi Bandung, misalnya. Pada tahun 2007, ia menemukan kerangka manusia di Desa Oi Bura, yang kemudian digunakan untuk merekonstruksi kejadian saat letusan berlangsung.

“Kerangka masih bertahan di tempat pada saat terjadi letusan Gunung Tambora. Mereka kebetulan jatuh di bawah rumah sendiri dan tertimbun rumahnya sendiri. Jadi, diperkirakan dia jatuh di dalam lumpur, sebab di bagian bawahnya itu utuh,” ungkapnya.(*)

COMMENTS

$hide=home

$show=/p/contact.html

Name

Email *

Message *

$type=three$author=hide$com=0$rm=hide$c=6$d=0$sn=0$show=404

Name

Api Sejarah,12,Biografi,15,Islam,6,Jejak,9,Jelajah,5,Komunis,5,Konflik,17,Konspirasi,1,Kota,3,Perang Dunia I,5,Perang Dunia II,5,Sejarah,59,Terpilih,18,Tragedi,3,
ltr
item
Reidfile: “Kiamat Kecil” Tambora: Sebuah Tahun Tanpa Musim Panas, Bencana Kelaparan, dan Perubahan Iklim
“Kiamat Kecil” Tambora: Sebuah Tahun Tanpa Musim Panas, Bencana Kelaparan, dan Perubahan Iklim
“Kiamat Kecil” Tambora: Sebuah Tahun Tanpa Musim Panas, Bencana Kelaparan, dan Perubahan Iklim, Gunung Tambora, Tambora, Gunung Tambora Meletus, Letusan Gunung Tambora, Reidfile.com
https://4.bp.blogspot.com/-SnvlBJL6lOY/V8QMTi585wI/AAAAAAAAFZ8/rBCfHJFKfYgVrgJQ4pcOGrFd_sp5F9x7wCLcB/s320/%25E2%2580%259CKiamat%2BKecil%25E2%2580%259D%2BTambora%2BSebuah%2BTahun%2BTanpa%2BMusim%2BPanas%252C%2BBencana%2BKelaparan%252C%2Bdan%2BPerubahan%2BIklim%2B-%2Breidfile.com.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-SnvlBJL6lOY/V8QMTi585wI/AAAAAAAAFZ8/rBCfHJFKfYgVrgJQ4pcOGrFd_sp5F9x7wCLcB/s72-c/%25E2%2580%259CKiamat%2BKecil%25E2%2580%259D%2BTambora%2BSebuah%2BTahun%2BTanpa%2BMusim%2BPanas%252C%2BBencana%2BKelaparan%252C%2Bdan%2BPerubahan%2BIklim%2B-%2Breidfile.com.jpg
Reidfile
http://www.reidfile.com/2016/09/kiamat-kecil-tambora-sebuah-tahun-tanpa.html
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/2016/09/kiamat-kecil-tambora-sebuah-tahun-tanpa.html
true
4280540735251631184
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy