Perjalanan Muhibah Laksamana Agung Cheng Ho yang Terlupakan

Armada yang kuat dijadikan media menigkatkan hubungan diplomatic dan kewiraniagaan.

Edisi special Reidfile kali ini akan memberikan ulasan menarik dari seorang Laksamana Cheng Ho yang disadur dari tulisan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang sangat fenomenal dan menjadi national best seller, berjudul Api Sejarah 1, hal 108. Mengungkap yang tersembunyi dan disembunyikan.

Perjalanan muhibah Laksamana Agung Muslim Cheng Ho dengan armada raksasa yang menakjubkan, namun terkalahkan oleh kisah perjalanan Chistofer Colombus ke Amerika dan Vasco Da Gama ke India. Padahal, armada kapal Colombus dan Vasco DA Gama cukup ditempatkan di satu geladak kapal armada Cheng Ho. Dalam National Geographic Indonesia, Frank Viviano menambahkan bahwa jumlah Kapal Harta atau Bochuan yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berjumlah 42 buah. Dengan ukuran panjang 120 meter, bagian terdalam 50 meter dengan 9 buah itnag dan geladak utama seluas 4.600 m2. Kapal tersebut diawaki oleh 30.000 pelaut dan mariner, 7 orang kasim berpangkat tinggi dan ratusan pejabat Ming, 180 tabib dan sejumlah pakar perkapalan, herbalis, pandai besi, tukang jahit, koki, akuntan, wiraniagawan dan penerjemah. 

Perjalanan Laksamana Cheng Ho dari daratan Cina ke wilayah Asia Afrika berlangsung dari 1405-1433 M. Terbagi dalam tujuh tahapan perjalanan. Pertama, tahun 1405-1407  M, armada berangkat dari Nanking dengan membawa sutera, porselin, rempah-rempah. Selanjutnya di Selat Malaka membasmi perompak, berikutnya mendarat di Sumatera, Srilanka dan India. 

Kedua, pada 1407-1409 M, armada memulangkan para duta asing dari sumatera, India dan wilayah lain yang pernah datang ke Cina, sekaligus bertujuan menjalin hubungan kerjasama niaga dengan negara-negara yang didatanginya di Samudera Hindia. Ketiga, tahun 1409-1411 M, armada memberikan hadiah ke kuil Budha di Srilanka. Keempat, 1411-1415 M, armada berlayar melewati India menuju ke Hormuz Iran. Kelima, armada harta Cheng Ho untuk pertama kalinya singgah di Semenanjung Arab dan Afrika, menghadiahkan zebra, singa, burung onta,. Keenam, 1421-1422 M, meningkatkan hubungan diplomatic dengan negara-negara yang dikunjunginya dengan menghantarkan pulang dari Cina dan membawa kembali duta barunya ke Cina. Ketujuh, 1431-1433 M, perjalanan terakhir ke Swahili Afrika Timur dan Makkah.

Armada yang kuat dijadikan media menigkatkan hubungan diplomatic dan kewiraniagaan. Tidak lupa membantu pengamana wilayah laut dari perompak, ikut serta membangun sarana kelautan, pelabuhan laut dan mercusuar di Cirebon, disertai dengan pembangunan rumah ibadah. 

Berbeda dengan kehadiran Colombus dan Da Gama yang berdampak lahirnya keputusan Paus Alexander VI dalam Perjanjian Tordesilas tahun 1449 M, merumuskan bangsa-bangsa di luar negara gereja dinilai sebagai bangsa biadab. Negaranya dinilai sebagai terranullius-wilayah tak bertuan. Dari penilaian ini, terjadilah mission sacre – misi suci dari gerakan genocide – pemusnahan bangsa di Meksiko dan bangsa Indian di benua Amerika. Kerajaan Katholik Spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat dan Kerajaan Katholik Portugis diwenangkan untuk menguasai dunia belahan timur. Perjanjian Tordesilas adalah sumber lahirnya imperialisme barat yang melanda negara-negara Asia Afrika.

Laksamana Cheng Ho ketika melakukan kunjungan ke nusantara, selain mengunjungi Kesultanan Samudera Pasai, Palembang, Pulau Bangka, Kalapa atau Jakarta, juga ke Muara Jati Cirebon. Di Cirebon, Cheng Ho membantu pembangunan mercusuar. Di Semarang, membangun masjid Sam Po Kong, yang pada akhirnya berubah menjadi klenteng. Selain itu, ia juga singgah juga ke Tuban, Gresik dan Surabaya. Kunjungan Laksamana Cheng Ho di daerah-daerah tersebut berpengaruh besar terhadap dakwah islam di nusantara. Tidak sebatas terhadap pertumbuhan kekuasaan politik islam, namun meningkatnya jumlah penganut agama islam di kalangan Cina masa itu.

Perkembangan Islam di Nusantara

Pemahaman mendasar yang harus ada dalam paradigma masyarakat Indonesia bahwa waktu masuknya islam di Indonesia berbeda dengan perkembangan islam di Indonesia. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya.

Jika diperhatikan, Kesultanan Samudera Pasai di Sumatera didirikan pada 1275 M, sedangkan Kerajaan Hindu Majapahit didirikan pada tahun 1294 M, maka selisih keduanya 19 tahun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa  Kesultanan Samudera Pasai pasti lebih awal dibandingkan Kerajaan Hindu Majapahit. Dengan demikian, apakah bisa dibenarkan pendapat bahwa agama islam baru masuk ke nusantara setelah Kerajaan Hindu Majapahit runtuh pada tahun 1478 M? tentu jawabnya TIDAK, karena ajaran islam telah dibawa oleh para niagawan muslim dari segala penjuru bangsa dunia melalui pasar. Fakta sejarah mengungkap bahwa pasar, sistem yang membuka pintu gerbang islamisasi di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa Prof. H. Muhammad Yamin menyatakan bahwa pada 1291 M, Kerajaan Hindu Majapahit belum berdiri. Tahun 1292 M, baru selesai menyerang Kerajaan Hindu Kediri bersama Tentara Tartar Kubilai Khan, sehingga baru pada tahun 1294 M dibangun Kerajaan Hindu Majapahit di sebuah desa kecil bernama Tarik di Mojokerto Jawa Timur.

Dengan demikian, jelaslah bahwa saat masuknya islam berbeda dengan perkembangan islam. Seperti halnya awal masuknya agama hindu dan budha, pada saat itu juga belum membangun kekuasaan politik atau kerajaan hindu dan budha. Kesimpulannya berdirinya kesultanan merupakan bagian dari perkembangan islam buka merupakan awal masuknya islam di nusantara. Masa perkembangan islam dalam membangun kekuataan politik terlihat adanya beberapa kesultanan, misalnya Kesultanan Leran di Gresik pada abad ke-11 dan Kesultanan Samudera Pasai di Sumatera Utara pada abad ke-13.

Perkembangan islam di Indonesia pun semakin meluas hingga memunculkan tren baru bagi kalangan pejabat, yaitu terjadinya konversi agama, misalnya banyak Raja-raja Hindu yang menjadi penganut islam. Langkah yang diambil oleh para raja ini dikenal dengan sebutan political motive, dimana raja-raja hindu memilih menjadi penganut islam untuk mempertahankan kekuasaannya karena seluruh rakyatnya menganut ajaran islam. Motif konversi ahgama juga dipengaruhi faktor rasa tidak aman dari ancaman imperialisme Katholik Portugis atau Protestant Belanda atau Inggris. Raja-raja tersebut berubah nama menjadi sultan. 

Konversi agama yang dilakukan oleh para penguasa di masa itu merupakan wujud nyata bahwa islam telah menjadi arus bawah yang kuat dan berpengaruh besar terhadap proses penyuburan tanah atau masyarakat lapisan bawah. Akibatnya membangun paradigm bagi para raja untuk menyelamatkan diri dari imperialisme dengan masuk islam. Hal ini juga berlaku untuk Indonesia bagian timur (Ambon, Papua), bahwa islam juga telah memasuki hati-hati rakyat sebelum rajanya ikut serta memeluk agama yang istimewa ini. Sungguh, Maha Benar Allah, bahwa islam merupakan Rahmatalil’alamin.

Perkembangan agama islam yang semakin meluas di nusantara dengan diiringi pertumbuhan kekuatan politik islam tentu tidak lepasa dari peran kekuasaan politik islam di Timur Tengah, yang dimulai dari kepmeimpinan Khulafaursyidin, Umayah, Abbasiyah dan Fathimiyah serta dukungan Kesultanan Turki. Selain itu, diikuti dengan runtuhnya pengaruh hindu dan budha di India, serta munculnya kekuasaan politik islam di India oleh Mongol atau Moghul. Kekuatan islam di Cina yang berlangusng hingga Kekaisaran Ming pun turut serta mempengaruhi perkembangan politik islam di Indonesia. Terbukti Laksamana Cheng Ho pun melakukan ekspedisi menyeluruh di sleuruh wilayah tanah air dengan membawa armadanya dengan diikuti menebarkan kebaikab-kebaikan islam, meski perjalanannya tak banyak yang tahu dan jelaslah bahwa perjalanan muhibah laksamana agung Cheng Ho yang terlupakan tergantikan dengan ekspedisi Columcus dan Da Gama yang sangat tidak sebanding dengan kekuataan Cheng Ho.

Sejarah kekuatan islam di Indonesia pun kembali dengan sengaja dipudarkan. Sejarahwan Belanda pada masa pemerintahan Belanda membuat periodesasi Indonesia dengan memundurkan waktu masuknya agama islam berada jauh di belakang, sesudah keruntuhan kekuasaan politik hindu atau Kerajaan Hindu Majapahit. Hal ini menjadikan islam baru dibicarakan setelah Kerajaan Hindu Majapahit pada tahun 1478 M, padahal islam telah mulai memasuki nusantara sejak abad ke-7.

Sejarah palsu pun berlanjut dan tertulis bahwa runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit akibat serangan dari Kerajaan Islam Demak yang dimpimpin oleh Panembahan Fatah. Mengapa demikian?

N.A Baloch menjawab strategi pemerintahan kolonial Belanda, anti islam dan bermotivasi divide and rule atau pecah belah untuk dikuasai melalui berbagai aspek, sah satunya melalui penulisan sejarah, sehingga nampaklah dalam penulisan sejarah Indoensia bertolak dari pandangan Hindu Sentrisme atau dari Neerlando Sentrisme. Penulisan lebih mengutamakan sejarah hindu budha atau sejarah Belanda di Indonesia. Islam dijadikan dasar gerakan perlawanan terhadap penjajahan Protestant Belanda, dinegatifkan analisis sejarahnya. Dengan kata lain, penulisan sejarah dimaksudkan untuk menyudutkan islam. Penulisan sejarah Indonesia ingin ditekankan bahwa dalam proses sejarah hanya ada pelaku sejarah dan islam tidak tercantum di dalamnya, meski islam lebih mendominasi peran-peran penting dalam perjuangan kebangkitan bangsa Indonesia.(Sandy Kun)

COMMENTS

$hide=home

$show=/p/contact.html

Name

Email *

Message *

$type=three$author=hide$com=0$rm=hide$c=6$d=0$sn=0$show=404

Name

Api Sejarah,12,Biografi,14,Islam,6,Jejak,7,Jelajah,3,Komunis,5,Konflik,17,Konspirasi,1,Kota,3,Perang Dunia I,5,Perang Dunia II,5,Sejarah,57,Terpilih,18,Tragedi,3,
ltr
item
Reidfile: Perjalanan Muhibah Laksamana Agung Cheng Ho yang Terlupakan
Perjalanan Muhibah Laksamana Agung Cheng Ho yang Terlupakan
Armada yang kuat dijadikan media menigkatkan hubungan diplomatic dan kewiraniagaan.
https://1.bp.blogspot.com/-50n66ZxRt50/V3tHzB6K56I/AAAAAAAAEqw/9sJh8Hupwg4cllkdeIZmpI469lTJd5Q8gCLcB/s320/cheng-ho-museum-081.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-50n66ZxRt50/V3tHzB6K56I/AAAAAAAAEqw/9sJh8Hupwg4cllkdeIZmpI469lTJd5Q8gCLcB/s72-c/cheng-ho-museum-081.jpg
Reidfile
http://www.reidfile.com/2016/07/perjalanan-muhibah-laksamana-agung_4.html
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/2016/07/perjalanan-muhibah-laksamana-agung_4.html
true
4280540735251631184
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy