Islam Penggerak Nasionalisme dan Patriotisme di Indonesia

Islam Penggerak Nasionalisme dan Patriotisme di Indonesia, islam, nasionalisme, patriotisme, Sejarah, Reidfile

Reidfile - Imperialisme barat yang berhasil menghancurkan kehidupan dunia pun juga telah memecah belah kekuasaan politik islam atau Kesultanan Turki di Timur Tengah dengan munculnya gerakan nasionalisme. Runtuhnya Kesultanan Turki, ternyata tetap memunculkan ketakutan bagi imperialisme barat karena bangkitnya solidaritas muslim dan ulama. Gerakan solidaritas yang ditakuti oleh imperialisme barat dikenal dengan Pan Islamisme. Gerakan inilah yang  dinilai penjajah sangat berbahaya karena membangkitkan gerakan patriotism (cinta tanah air, membela bangsa dan agama) yang bisa menular ke bangsa-bangsa yang lain termasuk Indonesia.

Dalam rangka menghalau kekuatan gerakan ini, Kerajaan Protestan Anglikan Ingris menciptakan balance of power (politik imbangan kekuatan) dengan membantu gerakan zionisme yang memiliki cita-cita membangun negara Israel. Usaha ini berhasil menjadi nyata sesudah Perang Dunia II (1939-1945M) tepatnya pada tanggal 15 Mei 1948. 

Negara Israel digunakan sebagai penghambat kemajuan negara-negara nasional islam di Timur Tengah setelah terlepas dari Kssultanan Turki. Timur Tengah sekaligus dijadikan pasar senjata produk negara-negara barat, sehingga perangnya tak pernah berkesudahan karena negar-negar Timut Tengah dengan hasil minyaknya, mempunyai daya beli  senjata yang sangat kuat (Suryanegara, 2010).

Negara Israel digunakan sebagai penghambat kemajuan negara-negara nasional islam di Timur Tengah setelah terlepas dari Kesultanan Turki. Timur Tengah sekaligus dijadikan pasar senjata produk negera-negara barat. Oleh karena itu, perangnya tak pernah berkesudahan karena negara-negara Timur Tengah dengan hasil minyaknya, mmepunyai daya beli senjata yang sangat kuat (Suryanegara, 2010).

Sikap imperialisme juga sangat menghinakan islam, terutama dalam menghina gerakan kebangkitan solidaritas umat islam. L. Stoddard dalam bukunya Dunia Baru Islam menyebutkan bahwa Jamaludidin Al Afghany menyebutkan adanya penghinaan tersebut, yaitu ;
  1. Paradigma dan penilain tentang nasionalisme dan patriotism dianggap sebagai sikap dan nilai positif yang hanya dimiliki barat, sedangkan perlawanan umat islam terhadap imperialisme barat meski dalam rangka membela tanah air tidak dapat dinilai sebagai gerakan nasionalisme dan patriotisme seperti gerakan protestan yang membebaskan diri dari penjajahan katolik.
  2. Barat menghina gerakan nasionalisme dan patriotisme yang dilakukan oleh umat islam sebagai tidakan fanatisme, xenophobia, dan terorisme di berbagai media barat.
  3. Umat islam tidak berhak memiliki harga diri dan kehormatan, melainkan hanya chauvinism (kekacauan).
  4. Barat menilai umat islam yang ada di Asia dan Afrika sebagai bangsa yang terbelakang dan biadab (perlu diketahui bahwa Bung Karno pernah melakukan pembelaaan di pengadilan kolonial di Bandung degna menyatakan bahwa keterbelakangan bangsa-bangsa yang terjajah sebagai dampak penindasan imperialisme barat). Nah lo!!!
Memasuki abad ke-20 (1990-1939 M) lahirlah kesadaran kebangkitan nasional yang dipelopori oleh nasionalisme islam yang diikuti oleh isme kontranya (Suryanegara, 2010), yaitu :
  1. Islamisme, mempelopori bangkitnya kesadaran islam yaitu Djamiatoel Choir, Al Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjerikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdhatoel Oelama, Nahdhatoel Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatoean Islam.
  2. Djawanisme, Tradisionalisme, Kesoendenisme, yang dipelopori oleah Boedi Otomo, Serikat Prijaji, Iagma Djawa Pasoendan, Seloso Kliwon-Taman Siswa ( M.C Ricklefs, 1991, Op.Cit,hlm 276 menjelaskan Taman Siswa didirikan pada tahun 1922. Menolak islam pembaharu dan memaknai kebudayaan Jawa sebagai dasar filosofis nasional yang baru.)
  3. Komunisme, dengan ide komunis internasional yaitu Perserikatan Kommunist di Indoa (PKI) diikuti ide komunis nasional.
  4. Marhaenisme, dimotori oleh Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
  5. Kebangsaan Sekuler yang digerakkan oelah Partai Indonesia Raja (Parindra), Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo). Pada Ibid., hlm 287 menuturkan pada 1935 partai berbau Djawa, Persatoean Bangsa Indonesiadan Boedi Oetomo membentuk Partai Indonesia Raja (Parindra), bertujuan kerjasama dengan Belanda. Parindra sebagai partai kaum konservatif dan bersifat sekuler atau anti islam.
Kesan negatif barat terhadap perjuangan nasionalisme dan patriotisme di Timur Tengah oleh kerjaan Protestan Belanda juga dialamatkan yang sama kepada ulama dan santri di nusantara Indonesia. Dengan demikian sangat sulit mengartikan bahwa perjuangan para ulama dan santri untuk memperjuangkan tanah air, bangsa dan agamaoelh imperialisme barat (baik imperialime katolik maupun imperialisme protestan) ke dalam istilah nasionalisme dan patriotisme. 

Gerakan perlawanan ulama dan santri dibuat seakan-akan tidak pernah ada. Ulama dan santri digambarkan hanya sebagai tokoh yang hanya berkutat dengan ibadah di masjid, surau atau langgar. Mereka tidak akan pernah melancarkan perlawanan terhadap imperialisme barat, bahkan sejak 1972 terjadi kecenderunagn dalam penulisan sejarah Indonesia bahwa gerakan nasionalis dipelopori oleh PNI. Benarkah?
“Pengertian ini jelas sebagai tindak pendistorsian atau penyelewengan penulisan sejarah. Dalam hal inidapat terjadi, akibat kesalahan penulisan sejarah Indonesia yang banyak dituliskan bukan oleh ulama atau sejarahwan muslim yang berpihak kepada kebenaran sejarah sebenarnya. Dengan kata lain, hal ini terjadi akibat adanya upaya deislamisasi penulisan sejarah Indonesia (Suryanegara, 2010).”
Sebenarnya, istilah nasionalisme telah diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia sejak abad ke-20 yang dipelopori  oleh Central Sjarikat Islam (CSI) dalam National Congress Sjarikat Islam Pertama-1e Natico di Bandung pada 17-24 Juni 1916. Congress ini pun memberikan dampak luar biasa bagi ormas dan parpol di Indonesia, di antaranya tiga tahun setelah Indische Partij (1912M) didirikan, organisasi itu mengubah namanya menjadi National Indische Partij dipimpin Douwes Dekker Danoedirjdjo Setiaboedi. Sebelas tahun kemudian, PNI didirikan oleh Bung Karno di Bandung. Dengan demikian, pengaruh Sjarikat Islam sangat kuat dalam di masyarakat Indonesia. 

Gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh ulama dan santri terhadap imperialisme barat, menjadi bukti kuat bahwa keduanya memegang peran penting dalam memimpin perlawanan terhadap penajajahan imperialisme barat dengan upaya pengembangan agama katolik dan protestan. Penjajahan imperialisme barat dengan identitas agama tersebut maka muncullah islam di nusantara sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan barat. Damapak imperialisme barat juga menjadikan raja-raja hindu dan budha memeluk islam. Dan yang lebih istimewa lagi, mereka menjadikan islam sebagai gerakan politik untuk melawan desakan kristenisasi.

Gerakan nasionalisme dan patriotisme islam di nusantara juga membuktikan bahwa islam tidak hanya mengajarkan bagaimana beribadah ritual, namun islam mengajarkan banyak hal termasuk membangun kekuataan berjamaah untuk menghadapi penjajahan imperialisme barat. Umat islam juga menjadikan bahasa Indonesia sebagai pembngakit kesadaran dan aspirasi perjuangan nasionalisme, sehingga tak heran bahwa islam menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan imperialisme barat.

Seperti simbol patung Pangeran Diponergoro menunggang kuda yang ditempatkan di depan Monumen Nasional yang memberikan makna bahwa ulama dan santrilah sebagai perintis dan pengawal perjuangan membela bangsa dan negara. Dengan demikian, sejarah mengungkap bahwa islam menjadi penggerak nasionalisme dan patriotisme di Indonesia melalui perjuangan ulama dan santri.
“ Jika engkau ingin menakar kadar cinta di dalam dirimu, engkau bisa belajar pada laki-laki yang mencetak sejarah emas di batas kota itu. Cinta dan rindu yang telah memberinya kesediaan berkorban begitu mencengangkan itu adalah cinta dan rindu pada LELAKI AGUNG (Muhammad) yang telah membimbingnya menjadi hamba dari PEMILIK MUTLAK KEHIDUPAN. Lelaki pencetak sejarah itu adalah Shuhaib bin Sinan ar Rumi”
(Sandy Kun)

COMMENTS

$hide=home

$show=/p/contact.html

Name

Email *

Message *

$type=three$author=hide$com=0$rm=hide$c=6$d=0$sn=0$show=404

Name

Api Sejarah,12,Biografi,17,Islam,6,Jejak,10,Jelajah,6,Komunis,5,Konflik,18,Konspirasi,1,Kota,3,Perang Dunia I,5,Perang Dunia II,5,Sejarah,60,Terpilih,18,Tragedi,3,
ltr
item
Reidfile: Islam Penggerak Nasionalisme dan Patriotisme di Indonesia
Islam Penggerak Nasionalisme dan Patriotisme di Indonesia
Islam Penggerak Nasionalisme dan Patriotisme di Indonesia, islam, nasionalisme, patriotisme, Sejarah, Reidfile
https://2.bp.blogspot.com/-mBS2DrI4g5M/WZw0X4GxvNI/AAAAAAAAACY/eaaxCcN3v8kDpz-2cp60IpD9_-OYkeDaACLcBGAs/s320/Islam%2BPenggerak%2BNasionalisme%2Bdan%2BPatriotisme%2Bdi%2BIndonesia.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-mBS2DrI4g5M/WZw0X4GxvNI/AAAAAAAAACY/eaaxCcN3v8kDpz-2cp60IpD9_-OYkeDaACLcBGAs/s72-c/Islam%2BPenggerak%2BNasionalisme%2Bdan%2BPatriotisme%2Bdi%2BIndonesia.jpg
Reidfile
http://www.reidfile.com/2016/05/islam-penggerak-nasionalisme-dan.html
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/
http://www.reidfile.com/2016/05/islam-penggerak-nasionalisme-dan.html
true
4280540735251631184
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy